cute_vista - Archieve
   
  Vista's MainPage
  Home
  Contact
  Guestbook
  It's me
  Archieve
  Poem
  Humour
  My gallery
  Wise words
 

MANAGEMENT 

OF SELF-CONFIDENCE

 

Masalah percaya diri atau pede merupakan fenomena dan pengalaman keseharian yang pastinya pernah dihadapi oleh siapapun, mulai anak-anak sampai orang dewasa. Namun salah menyikapinya akan berakibat tragis dan fatal karena dapat menimbulkan citra diri yang negatif.


Ada fenomena mental cuek dari ABG sekarang yang menghasilkan sikap kelewat pede yang tidak pada tempatnya. Hal ini terungkap dari prinsip gaul mereka “pede aja lage!!” atau “mendingan Ge eR (gede rasa) daripada minder” yang sering terlontar untuk membungkus penampilan yang tidak wajar atau cenderung nganeh-nganehi (orang jawa bilang) dan bikin sensasi. Seperti yang dilakukan beberapa siswa-siswi sekolah menengah yang sengaja memakai rok seragam kelewat pendek ataupun rambut awut-awutan seperti tidak sempat disisir merasa cuek saja menghadapi hidup mereka tanpa mempertimbangkan nilai moral atau norma sosial.

 

Sebaliknya banyak juga teman-teman atau bahkan remaja di sekitar kita yang berpendidikan tinggi serta didukung potensi kominikasi dan intelektual yang baik, yang merasa minder dan tidak berani bergaul dengan lingkungan mereka dengan alasan nggak pede.


Kasus-kasus di atas adalah contoh kesalahan pengelolaan pede atau mis management pede. Padahal kepercayaan diri, harga diri dan martabat adalah pondasi bagi dinamika dan perkembangan hidup kita. Tanpa adanya unsur-unsur tersebut maka kita akan menjadi rentan terhadap berbagai gangguan yang timbul dalam keseharian kita, bahkan mungkin dapat menurunkan kualitas hidup kita.


Perasaan bersalah, cemas, minder dan was-was sangat mudah menyerang orang-orang dengan harga diri rendah atau sedang mengalami krisis pede atau yang dalam ilmu agama disebut penyakit dzillah dan maskanah, yaitu cerminan jiwa rendah diri atau hina, yang diharamkan oleh Allah. Dalam kondisi seperti ini, seseorang cenderung tidak memiliki keberanian untuk mencoba hal-hal yang positif, karena mereka tenggelam dalam reaksi negatif terhadap kegagalan, kesalahan dan pengalaman pahit yang telah lalu. Kadang sikap ini tercermin dalam ungkapan seperti “ini sangat mengerikan”, “betapa malangnya /kacaunya hidup saya”, “seandainya saya begini.... begitu” dan seterusnya.


Sindrom seandainya adalah refleksi jiwa yang kalah. Seseorang yang sudah terjangkit krisis pede biasanya cenderung mengembangkan kebiasaan yang dalam ilmu psikologi disebut external locus of control yaitu kecenderungan melemparkan kesalahan pada orang lain sebagai pelarian dari ketidakberesan dirinya sendiri.


Bagaimanakah menanamkan rasa percaya diri yang wajar dan normal dalam diri kita? Berikut ini adalah langkah-langkahnya..

  1. Mencintai diri sendiri

Kadang kita melihat ada beberapa orang yang sepertinya terlahir dengan citra diri yang tinggi dan kepercayaan diri yang kuat serta begitu memahami diri mereka apa adanya dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Mereka menikmati setiap hal-hal positif dalam hidup mereka dan memandang berbagai problem sebagai tantangan dengan kegairahan yang mengagumkan.


Sebenarnya mereka tidak serta merta terlahir seperti itu. Yang mereka lakukan adalah mengasah kepercayaan diri dan sensitifitas mereka terhadap berbagai hal. Mereka juga mengembangkan sikap, keyakinan, cara berpikir dan perilaku-perilaku tertentu yang mereka rumuskan dalam bentuk kebiasaan yang positif; kebiasaan untuk selalu berorientasi pada apa yang sedang dan telah mereka lakukan. Kemudian mereka menjadikan hal-hal positif ini sebagai dasar peningkatan kualitas hidup dengan membangun kebiasaan untuk menerima kelemahan dan kekurangan diri sebagai langkah perbaikan di masa depan.

2. Kemampuan mengendalikan diri

  Kemampuan dan kemauan mengendalikan diri adalah prinsip utama management of self-confidence. Hal ini meliputi pengendalian perilaku, pikiran dan emosi yang semuanya bermuara pada pengendalian pikiran, khususnya sikap dan keyakinan terhadap apapun yang terjadi dalam hidup kita yang biasa disebut kecerdasan dan kepekaan emosional. Hal ini sejalan dengan hadits Nabi yang menyatakan bahwa orang yang cerdas adalah orang yang dapat mengendalikan diri dan bervisi jauh ke depan dengan berbekal untuk akhirat.


  Kemampuan mengendalikan diri salah satunya dapat diasah dengan mengembangkan sikap menghilangkan tekanan masa lalu dan membuang beban pikiran atas segala kejadian yang tidak diinginkan, serta mengembangkan sikap fleksibel, adaptif, rasional, positif, dan berorientasi solusi


Sebagai pedoman untuk menyeimbangkan pede, Al-Qur’an melalui doktrin Al-Fatihah melatih kita untuk membiasakan diri berorientasi pada kemauan, keberanian, ketulusan, dan kemampuan untuk melakukan aktivitas demi beribadah kepadaNya (Iyyaka Na’budu) namun juga disertai dengan sikap mental tahu diri dan mawas diri, dengan cara memahami bahwa semua prestasi kita atas kehendak Allah sehingga kita senantiasa bertawakal dan memohon pertolonganNya agar selalu dalam ridhaNya (wa Iyyaka Nas’tain).


Mengukur diri secara tepat dan pengendalian diri merupakan pengkal keberhasilan manajemen pede. Nabi SAW bersabda : “Niscaya akan binasa oranf yang tidak dapat mengukur dirinya”. Wallahu A’lam...

Today, there have been 1 visitors (2 hits) on this page!
yamani_theone@yahoo.com *** www.connect-cute.page.tl
This website was created for free with Own-Free-Website.com. Do you want your own website too?
Register for free